Selasa, 2 Oktober 2012 Tapanuli,mtrosiantar.com

TINJAU: Rombongan anggota DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang meninjau lahan kopi di Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Gurgur Kecamatan Tampahan, Senin (1/10).
TOBASA – Sebanyak 11 anggota DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Jaya Wijaya, Papua melakukan kunjungan kerja ke Balai Penelitan Teknologi Pertanian (BPTP) untuk melihat lebih dekat budidaya kopi di Tobasa. Para anggota legislatif di ujung timur Indonesia itu berharap, kopi Lintong dapat dikembangkan di daerah mereka.

Ketua DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang D Nicolaus Kakyarmabin Sip mengatakan, daerah Tobasa dan Pegunungan Bintang hampir sama iklimnya. Daerah Tobasa berada di atas ketinggian 1200 dpl. Sementara Pegunungan Bintang berada di ketinggian 2000-4000 dpl.

Menurut Nicolaus, tanaman kopi salah satu tanaman primadona di Kabupaten Pegunungan Bintang. “Tanaman kopi sangat menjanjikan untuk dikembangkan di daerah kami, karena tanah disana sangat subur dan masih alami. Tanpa pupuk, tanaman di sana pasti tumbuh subur,“ ujar Nicolaus, Senin (1/10) disela-sela kunjungan di BPTP Gurgur, Tobasa.

Secara singkat, Nicolaus menggambarkan Kabupaten Pegunungan Bintang yang masih berusia 9 tahun. Selama itu pula, kabupaten tersebut belum bisa berkembang seperti kabupaten lainnya di Papua karena keterbatasan infrastruktur.

Hal itu pula lah yang menghambat pengetahuan para petani. Tanaman kopi, kata Nicolaus, sudah ditanam di kabupaten tersebut. Namun belum mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Jadi kendalanya adalah SDM petani yang masih rendah. Mereka menanam kopi disana, tapi tidak dirawat dengan baik. Sehingga hasilnya tidak memuaskan,” bebernya.

Dengan kunjungan kerja dewan ini, sebut dia, akan lebih mendorong pemerintah daerah untuk memotivasi masyarakat bagaimana menanam kopi dan merawat dengan benar.

“Memang petani sudah mengolah lahan semi teknologi, tapi kendalanya itu tadi, minimnya informasi kepada masyarakat. Kami (dewan) harus mendorong pemkab untuk segera mensosialisasikan sistim ini kepada masyarakat,” katanya.

Asisten II Kabupaten Pegunungan Bintang Bartomeus Paragai MSi mengatakan, sangat tertarik dengan sistem pertanian yang dilakukan pertanian Tobasa. Dikatakannya keberhasilan penanaman kopi bukanlah hanya dilihat dari banyaknya pokok yang ditanam, akan tetapi jarak yang memiliki 2 x 3 meter sangat menguntungkan petani.

“Selain kopi yang dipetik ada juga tanaman tumpang sari di sela-sela kopi tersebut, artinya panen kopi panen pula tanaman lain dalam satu lokasi. Seperti saya lihat disini disela-sela kopi ada jagung, kol, kentang dan lain sebagainya,” sebutnya seraya mengatakan sangat bagus.

Kunjungan kerja para anggota DPRD Pegunungan Bintang tersebut didampingi Asisten 1 Wasir Simanjuntak dan Kabag Humas Protokoler Elisber Tambunan dan penyuluh pertanian desa Gurgur P Saragih. (cr-03)

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X