Petani Kakao di Kampung Hamonggrang ketika melakukan pemisahan biji kakao yang terserang hama dan yang baik – Jubi/Engel Wally
Petani Kakao di Kampung Hamonggrang ketika melakukan pemisahan biji kakao yang terserang hama dan yang baik – Jubi/Engel Wally

Jayapura, Jubi – Pemerintah Provinsi (Pemprov) terus mendorong para petani lokal untuk mengembangkan komoditas kopi dan kakao, hal ini dalam rangka mempersiapkan diri memenuhi permintaan pasar.

Asisten Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Papua, Elia Loupatty kepada wartawan, di Jayapura, Selasa (26/4/2016) mengatakan harga kakao saat ini mencapai Rp29 ribu per kilo, apalagi infrastruktur jalan sudah bagus di wilayah Mamta.

“Ini kesempatan bagi petani untuk meningkatkan produksi, apalagi harga kakao dan biji kopi di pasaran terus membaik dan permintaan pasar meningkat,” katanya.

Untuk pengembangan dua komoditas ini, ujar Loupatty, wilayah Mamta sangat strategis untuk kakao. Sementara wilayah Pegunungan Papua sangat baik untuk kopi.

“Kopi dari wilayah pegunungan punya cita rasa sendiri, dan petani sekarang mulai melakukan perluasan lahan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua, John Nahumury mengatakan guna meningkatkan produksi biji coklat di Bumi Cenderawasih, pemerintah provinsi (Pemprov) telah mengembangkan sentra perkebunan kakao pada beberapa kabupaten diantara, Sarmi, Keerom, Nabire dan Yapen.

“Diharapkan dengan adanya pengembangan sentra perkebunan kakao dapat meningkatkan hasil produksi di Papua,” kata Nahumury.

Selain dorong perluasan areal perkebunan, ujar Nahumury, pihaknya juga telah mendorong pengembangan pemeliharaan kebun kakao. Sebab lanjutnya, dengan adanya pemberlakukan MEA akan berdampak sampai ke Papua.

“Kita tidak bisa melarang produk yang masuk ke Papua, untuk itu harus dipersiapkan sejak dini,” ucapnya. (*)

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X