15 Juli 2016 17:42:13 Diperbarui: 15 Juli 2016 20:59:26

Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL
Kopi Amungme Gold yang dihasilkan dari perkebunan kopi Suku Amungme, Papua/RUL

Dengan secangkir kopi kita bisa lebih akrab dan santai. Dengan secangkir kopi, segala gundah gulana terurai dengan lunglai. Dengan secangkir kopi, negara kita dikenal luas hingga ke mancanegara. Dan dengan secangkir kopi, barista ternama dan penikmat kopi dunia mengenal Indonesia bukan hanya karena Bali saja.

Negara ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar bersama Brazil, Vietnam dan Kolombia. Segala jenis kopi ada di tanah Nusantara. Bahkan, kopi menjadi komoditas unggulan Indonesia meski kita sendiri belum bisa menjadi pengendali harga kopi dunia yang masih terpusat di London dan New York. Di jalanan ibu kota, harum kopi kian santer dengan menjamurnya warung kopi dengan beragam konsep dan idealismenya.

Dari cara seduh pour over sampai aeropress yang dikompetisikan barista dunia akrab menyapa kita saat bertamu ke warung kopi yang senang disebut dengan cafe. Menjadi peminum kopi bukan sekedar mengecap rasa pahit di lidah. Dengan ragam aroma dan penyajiannya, meminum secangkir kopi perlu diritualkan layaknya tradisi meminum teh di timur asia.

Kopi Indonesia dikenal dengan keunikan rasa dan aroma. Kopi Sumatera identik dengan rasa yang berat dan bau hutan serta rempah. Berbeda dengan di Toraja, buah kopinya lebih mungil serta mengkilap menjadi identitas yang khas kopi yang memiliki tingkat keasaman cukup tinggi.

Di Papua, dengan alam yang masih perawan dan gugusan pegunungan yang padat, membuat kopinya memiliki tekstur yang lembut dan beraroma tajam. Tak ayal, kopi dari wilayah pegunungan Wamena dikenal luas dan menjadi merek dagang tersendiri. Apalagi, petani kopi di Papua masih mengandalkan proses alam dengan menunggu buah kopi ranum. Biasanya dikenal dengan natural process.

Begitu juga dengan kopi Papua yang berasal dari pegunungan di daerah Timika. Aroma yang tajam serta harumnya biji kopi setelah digoreng langsung merasuk ke indera penciuman saat saya berkunjung ke sebuah koperasi di Kabupaten Mimika, Kota Timika, Papua tiga pekan silam. Koperasi Amungme Gold yang dikelola oleh lima orang ini berhasil memberdayakan suku Amungme menjadi petani kopi dengan hasil produksi yang cukup untuk mengopikan orang yang berkunjung ke situs penambangan PT Freeport Indonesia (FI), bahkan kerap dibawa ke mancanegara sebagai buah tangan yang eksotis.

Suku Amungme yang memiliki hak ulayat atau hak atas kepemilikan wilayah di daerah penambangan PT FI dominan mendapatkan binaan dan banyak fasilitas lain yang diberikan khusus oleh PT FI, termasuk Koperasi Amungme Gold. Sejak 2013, koperasi ini membina dan memberikan edukasi serta fasilitas kepada suku yang berada di daerah pegunungan dekat dengan situs penambangan. Admin Highland Economy Development Amungme Gold Harony

Harony Sedik, wanita paruh baya yang dipercaya menjadi Admin Highland Economy Development Amungme Gold menuturkan proses pembinaan kepada para petani kopi Amungme di kampung Tisinga, Hoya dan Arowano. Ketiga kampung tersebut merupakan tempat lahan penanaman pohon kopi.

“Di setiap kampung ada 5 hektar lahan perkebunan kopi dan terdiri dari 24 petani,” kata Harony seraya menunjukkan biji kopi yang masih hijau di sebuah tempat penyimpanan.

Dalam sebulan, Koperasi Amungme Gold biasa memproduksi 1 ton kopi yang sudah digoreng (roasted) dalam bentuk biji (whole beans) atau yang sudah digiling (grinded). Biasanya sudah ludes terjual dalam kurun waktu sebulan. Pembelinya bukan dari wisatawan atau menitipkannya di kedai kopi. Menurut Harony, kopi Amungme Gold kerap diborong oleh pemerintah dan karyawan atau tamu PT FI yang kebetulan berkunjung ke tempatnya serta warga di Timika.

“Produksi 1 ton dalam satu bulan sudah ludes dari Timika, Freeport dan pemerintah. Produksi paling banyak sekitar 1,5 ton dalam satu setengah bulan,” ungkap Harony.

Sejak berdirinya koperasi ini, Suku Amungme mulai serius menggarap kebun kopi dan terus berproduksi. Bibit kopi yang ditanam pun didatangkan langsung dari Wamena yang selama ini dikenal sebagai penghasil kopi jenis arabika.

Proses

Bibit kopi yang didatangkan langsung dari Wamena dibawa ke wilayah Suku Amungme di daerah pegunungan sebelum ditanam dan panen. Setelah itu, pihak koperasi bersama petani memonitor dan menghimpun hasil panen sebelum di bawa ke Koperasi Amungme Gold yang berada di Kabupaten Mimika, Papua.

Satu petani bisa menghasilkan kopi sebanyak 25 Kg dengan harga jual dari petani 35 ribu rupiah per kilonya dan masing-masing kampung bisa menghasilkan kopi sekitar 500 Kg. Kopi yang dibeli pihak koperasi masih dalam keadaan belum dikupas. Proses pengupasan, penjemuran, goreng dan giling dilakukan di luar wilayah Suku Amungme, tepatnya di kantor koperasi.

“Sekali monitoring di tiap bulan kami mengambil kepada satu petani 25 Kg dengan harga per kilo 35 ribu rupiah untuk kopi yang belum dikupas. Sekarang ada 24 petani dari tiga kampung di Amungme. Satu kampung bisa menghasilkan 500 Kg kopi,” tutur Harony.

Kopi yang dihimpun dari petani akan melalui proses pengupasan dan penjemuran agar kadar air di dalam biji kopi berkurang. Kadar air dalam kopi dapat memengaruhi rasa dan aroma. Makin sedikit kadar airnya akan meningkatkan rasa dan aroma kopi.

“Di sini kami proses semua, pertama pengupasan kulit, ukur kadar air, harus di bawah 15 langsung di-roasting, kalau di atas 15 kami jemur lagi secara manual, setelah itu kami sortir,” kata Harony.

Kopi baru masuk ke proses goreng atau roasting jika kadar air sudah di bawah 15 persen dengan menggunakan mesin roasting dari Brazil. Mesin roasting yang efektif digunakan oleh koperasi hanya satu unit. Sebenarnya mereka memiliki satu mesin roasting lain buatan dalam negeri. Karena tidak adanya fitur monitor di mesin tersebut, hasil kopi menjadi kurang bagus dan cenderung lengket. Dengan alasan itu pihak koperasi memutuskan untuk tidak lagi memakainya.

Setelah digoreng, kopi didinginkan sejenak sebelum proses pengemasan atau digiling untuk memberikan pilihan kepada pembeli. Hal tersebut melihat pembeli dari luar negeri yang cenderung menyukai kopi yang masih dalam bentuk biji. Koperasi Amungme Gold hanya dapat menyediakan kemasan yang berisikan 250 gram kopi. Tingkat produksi dan alat yang terbatas membuat koperasi ini tidak mampu memproduksi kopi dengan kuantitas besar.

Kopi “Mahal”

Sejak memasuki ruangan koperasi, saya langsung menanyakan harga kopi yang sudah siap jual dengan kemasan 250 gram kepada Harony. Menurutnya, koperasi tersebut tidak mencari untung yang besar. Tujuan mereka adalah membina Suku Amungme sekaligus mengenalkan kopi Amungme yang rasanya tak kalah dari kopi yang ditanam di Distrik Wamena, Jayawijaya, Papua.

Tak ayal, kalau mereka hanya membandrol harga kopi Rp 50.000/kemasan. Hal ini berbanding terbalik dengan biaya proses monitoring dari petani yang membutuhkan biaya dan alat transportasi yang super mahal.

Mereka membawa kopi dari petani ke tempat koperasi menggunakan helikopter PT FI yang biaya sewanya mencapai 3.000 dollar (USD) atau jika dirupiahkan senilai 30 juta rupiah untuk durasi sewa selama 60 menit. Meski koperasi ini mengaku hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk membawa semua hasil kopi dari petani yang artinya membutuhkan biaya sekitar 17 jutaan sekali angkut, banderol 50 ribu rupiah untuk tiap kemasan dinilai terlalu murah bahkan kalau mereka berorientasi mencari keuntungan, koperasi ini pasti sudah tutup dan bangkrut.

Apalagi membandingkannya dengan harga kopi dengan kemasan yang sama di kedai kopi ibu kota. Kopi dari berbagai daerah dengan kemasan 250 gram bisa dibandrol hingga 150 ribu rupiah per kemasan. Belum lagi jika jenis kopi specialty yang bisa menembus sampai 500 ribu per kemasan. Tidak salah kalau menjuluki Amungme Gold sebagai kopi emas.

Menolak Starbucks

Sebagian besar masyarakat di perkotaan mungkin sudah akrab dengan kedai kopi asal Amerika, Starbucks. Kedai kopi yang konon meningkatkan status sosial tetamunya ini juga pernah tergiur dengan Kopi Amungme Gold. Pihak Starbucks pernah mengungkapkan ketertarikannya membeli dan menjadi pelanggan Kopi Amungme Gold untuk disajikan di seluruh kedai mereka. Namun, pihak koperasi menolak tawaran tersebut.
Hal itu disebabkan tingkat produksi yang terbatas. Koperasi Amungme Gold sampai saat ini belum mampu menghasilkan produk kopi dengan kuantitas yang besar. Alasan ini pula yang membuat Kopi Amungme Gold belum dikenal di tanah air. Mereka baru memasarkan produknya kepada para tamu PT FI, pemerintah dan warga di sekitar Kabupaten Mimika. Meski begitu, kopi ini cukup dikenal dikalangan ekspatriat. Mereka selalu membeli dan membawa Kopi Amungme Gold ke negara masing-masing setelah berkunjung ke PT FI.

Koperasi yang berusia hampir 4 tahun ini telah memiliki anggota yang berasal dari para petani kopi di Amungme. Selain membina bagaimana cara bertani dan menghasilkan sebuah produk unggulan khas daerah sehingga memiliki penghasilan yang lumayan besar, koperasi juga menjadi medium tempat belajar mengelola suatu perhimpunan atau organisasi.

Satu petani kopi di Amungme bisa mendapatkan gaji 10 juta rupiah per bulan. Lebih besar dari gaji kebanyakan angkatan kerja baru di ibu kota. Selain mengolah dan memasarkan kopi khas Amungme, Koperasi Amungme Gold juga menyediakan jenis kopi asli dari Wamena dan Paniai yang merupakan daerah penghasil kopi ternama di tanah Papua.

Nurul Uyuy, Co-Founder @komunitasteplok | Editor @kompasiana | Journalist @kompascom

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X