tirto.idAnak-anak petani kopi di Wamena mendapatkan kesempatan untuk bersekolah barista secara gratis. Rencananya, anak-anak yang terpilih ini akan dibentuk menjadi penerus petani kopi di Wamena.

Adalah Pieter Tan, seorang pengusaha kopi di Papua yang kritis melihat hal ini. Ia menjelaskan bahwa kini di Wamena para petani sudah berumur di atas 50 tahun. Karenanya ia pun mendirikan sekolah tersebut agar ke depan ada yang mau meneruskan untuk menjadi petani kopi.

“Sekolah Barista saya prioritaskan untuk anak-anak petani kopi di Wamena. Untuk anak-anak petani Wamena, biayanya gratis dan saya sudah siapkan tempat penginapan mereka. Jadi memang hanya anak-anak yang terpilih yang bisa belajar di sini,”

ujar Pieter Tan di Jayapura, Minggu.

Pieter mengatakan jika pihaknya khawatir karena minat anak-anak di Papua cenderung untuk menjadi pegawai pemerintahan, jarang sekali yang mau jadi petani.

“Tujuan saya buat sekolah ini supaya anak-anak Wamena mereka bisa tertarik dan belajar kopi, dan ternyata didalamnya banyak hal baru yang menyenangkan. Dengan kopi ini dia bisa menghasilkan uang,”

sambungnya.

Pieter pun menyebut bahwa proses pengajaran belum berjalan karena para pemuda di Wamena, baru saja selesai menyelenggarakan Festival Lembah Baliem.

“Saya belum buka pendaftaran karena masih tunggu pemuda dari Wamena. Siswa perkelas enam orang, sementara saya buka satu kelas dulu. Di sini kita lebih mengajarkan pengetahuan tentang kopi dan bagaimana mengesktraksinya, baik dengan mesin atau dengan alat manual,”

katanya lagi.

Ditegaskannya, ia akan memilih secara ketat siapa saja yang nantinya bisa bersekolah ditempatnya karena untuk menyiapkan hal tersebut diperlukan dana yang cukup besar.

“Terus terang saya siapkan ini biayanya tidak murah dan semua gratis. Jadi saya hanya mau mengajar untuk anak-anak yang memang serius mau belajar kopi. Mereka akan belajar kurang lebih satu bulan dan mereka bisa langsung latihan di Pit’s Corner,”

kata Pieter.

Menurutnya hingga kini masih sulit ditemukan tenaga peracik kopi/barista di Papua, dan hal ini juga yang ia lihat sebagai peluang untuk memberdayakan putra-putri asli Papua.

“Kalau mereka sudah memenuhi syarat saya akan tawarkan mereka ke hotel-hotel yang sudah jadi rekanan kami. Masih sangat sedikit barista di Papua, kebanyakan hotel punya kendala di situ,”

ujarnya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X