(Berita Daerah – Sumatera) Indonesia telah dikenal sebagai produsen kopi dengan varian kopi terbanyak yakni hampir 100 jenis varian kopi arabika. Kopi yang sudah terkenal di dunia yaitu Sumatra Lintong, Sumatra Solok Minang, Java Preanger, Java Ijen Raung, Java Estate, Sulawesi Toraja, dan Papua Wamena.

Sebagian besar daerah di Indonesia menjadi penghasil kopi, dan masing masing daerah itu memiliki ciri khas jenis kopinya apabila dinikmati, seperti daerah di Sumatera, Sulawesi, Jawa, Bali, Flores dan Papua. Kali ini, Lampung yang adalah pengekspor kopi terbesar di Indonesia yang merupakan daerah jajaran penghasil kopi terbaik di Indonesia.

Mengutip dari laman lampungprov.go.id, Selasa (20/9), Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung Ferynia mengatakan bahwa nilai ekspor kopi robusta asal Provinsi Lampung selama periode Agustus 2016 telah mencapai US$ 42.5 juta dollar dengan volume 24.323 ton.

Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan bulan Juli 2016 yakni dengan volume 12.349 ton senilai US$ 20,7 juta. Di bulan Agustus tahun 2016, telah tersedia stok komoditas kopi cukup banyak, mengingat panen di tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu.

Produksi biji kopi Lampung pun mengalami kenaikan yakni sampai 30 persen dibandingkan musim tahun lalu. Peningkatan produksi kopi dilakukan karena memang untuk tujuan eskpor guna memenuhi kontrak eksportir terhadap pembeli dari luar negeri.

Di bulan Agustus 2016, ekspor biji kopi arabika senilai US$ 101.568 dengan berat 19,2 ton. Sedangkan masa panen raya kopi di Lampung telah berlangsung bulan Juli – Agustus 2016, naik sekitar 30 persen dibandingkan musim sebelumnya tahun lalu.

Kopi Lampung baik arabika maupun robusta telah diekspor ke negara seperti Alzajair, Armenia, Belgia, Bulgaria, Republik Ceko, Mesir, Georgia, Jerman, Yunani, Hongkong, India, Italia, Jepang, Malaysia, Maroko, Portugal, Rusia, Singapura, Swiss, Inggris, Afrika Selatan, Rumania, Iran, Amerika Serikat, dan Swedia.

Dinformasikan bahwa produksi kopi di Lampung cukup banyak, sebentar lagi menyusul panen raya kopi pada Juli lalu, yang dampaknya harga kopi mengalami penurunan. Selain itu, kualitas komoditas tersebut sedang rendah karena kurangnya pengelolahan setelah panen. Ada juga karena saat ini rata-rata kadar air biji kopi petani di atas 19 persen sehingga kualitasnya kurang bagus.

Mengingat kualitasnya turun, akan mempengaruhi harga biji kopi asalan yakni kalau harga ditingkat petani turun dari Rp 21.000 per kilogram menjadi Rp 19.000 per kilogram. Bisa dibayangkan kalau dari satu karung biji kopi ukuran 50 kg, sekitar 30 persen kualitasnya kurang bagus, sehingga kita dapat ketahui berapa kerugian yang akan dialami oleh petani.
Lea/Journalist/BD

Editor : Lenny Ambarita
Info Daerah September 21, 2016

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X