DOGIYAI, SUARAPAPUA.com — Orang muda di Kabupaten Dogiyai ditantang menjadi pahlawan di bidang kopi untuk pertahankan dan kembangkan koperasi kopi yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Didimus Tebai, ketua Koperasi Kopi St. San Isodor Moanemani, Dogiyai, usai kegiatan Bina Koperasi di aula Pemda Dogiyai, Jumat (9/9/2016), mengatakan, “Saya sudah tua, sehingga orang muda Dogiyai, siapa yang berani untuk mempertahankan kopi yang telah ada lama ini?”

Di mata Didimus, ini satu tantangan. “Sampai sekarang, yang datang jual kopi dan jadi anggota koperasi ini, rata-rata sudah berambut putih, sudah tua tidak berdaya.”

Menurutnya, kopi memunyai kualitas yang diakui di Indonesia bahkan manca negara, beberapa tahun ke depan. Sayangnya, kata Tebai, kuantitas kopi terbatas.

“Menjadi masalah dalam pengembangan kopi adalah bukan mesin penggiling dan pemasaran, tetapi yang menjadi masalah adalah bahan bakunya,” kata Tebai.

Diakuinya, hingga kini konsumen suka kopi Moanemani, tetapi para petani tidak disibukkan agen-agen pembangunan atau instansi terkait untuk menanam kopi. “Itu juga satu persoalan,” ujarnya.

Sementara itu, Andrias Gobai, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Dogiyai, mengatakan, semua orang harus berpikir mengenai kopi.

Kata Andy, kopi harus dikembangkan menjadi ikon Kabupaten Dogiyai.

Ia juga sepakat, “Anak muda Dogiyai harus melanjutkan apa yang sudah dibuat oleh orang tua kami. Kopi-kopi yang ada mesti dibangkitkan kembali, gereja harus bangkitkan kembali kopi milik gereja.”

Peluang ini harus direbut. Sebab, kata dia, sekarang mereka sudah tua dan anak muda yang harus lanjutkan. “Kita harus pikir kopi dan kopi,” tegas Andy.

Lanjut Andy, “Kita orang muda memang ditantang oleh tokoh yang sejak lama telah mempertahankan koperasi kopi yang ada sejak dulu di Dogiyai.”

Pewarta: Agustinus Dogomo

Editor: Mary Monireng

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X