Merdeka.comHari kopi internasional tiap tanggal 1 Oktober, mungkin masih terasa asing di telinga masyarakat Indonesia secara umum. Namun di Purwokerto, Jawa Tengah, perayaan hari kopi internasional dilakukan dengan cara yang menarik. Sejumlah komunitas kopi dari mulai petani hingga penikmat kopi membagikan kopi gratis siap minum kepada khalayak luas.

Agenda yang diinisiasi komunitas Juguran Kopi dari beberapa wilayah Eks Karesidenan Banyumas tersebut dilaksanakan di Jalan HR Bunyamin Purwokerto di depan Kampus Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Dalam acara ini dibagikan sebanyak 2 ribu cup kopi kepada masyarakat pengguna jalan yang melintas di wilayah tersebut.

Menurut ketua panita Happy International Coofe Day, Dwiki Okta Pradita, momen tersebut menjadi sangat penting untuk memperkenalkan ragam kopi lokal yang ada di Banyumas, Jawa Tengah. Menurutnya selama ini masyarakat hanya mengetahui kopi kemasan pabrikan yang sudah dicampur dengan berbagai macam bahan.

“Ini edukasi kami kepada masyarakat di Purwokerto dan sekitarnya untuk memberikan satu cup kopi murni tanpa campuran gula dan susu. Agar mereka mengetahui kopi asli yang langsung diseduh. Tetapi jika warga ada yang ingin mencampur dengan gula dan kopi, kami juga sediakan,” ujarnya, Minggu (2/10).

Ia menambahkan, banyak warga yang belum mengetahui kopi lokalnya sendiri atau kebiasaan mengopi yang belum terekspos secara luas. Lewat agenda hari kopi internasional, Dwiki berharap masyarakat bisa melihat secara langsung pengolahan kopi mulai dari kopi biji hingga siap seduh.

“Pengenalan kopi fresh, mulai dari biji hingga hingga menyeduhkannya kita perlihatkan di sini. Karena kami sadar, kultur di Indonesia tidak semuanya budaya kopi, walau sebenarnya di Banyumas ada satu desa yang memiliki budaya kopi yang kental, saya pernah ke sana dan mereka mengolah biji kopinya dengan disangrai hingga (warna biji kopi) gelap,” jelasnya.

Dukungan acara yang kali kedua digelar tersebut, Dwiki menjelaskan sedikitnya terkumpul sebanyak 25 kilogram biji kopi yang berasal dari sumbangan berbagai kedai dan rumah kopi yang ada di Eks Karesidenan Banyumas.

Sementara itu, Koordinator Juguran Kopi Banyumas, Benny Indrawan mengatakan sebenarnya ada berbagai macam potensi kopi lokal yang berasal dari wilayah Banjarnegara, Banyumas, Wonosobo dan Purbalingga yang dikenalkan dalam agenda tersebut.

“Dari Purwokerto sendiri ada kopi yang berasal dari wilayah Baturraden jenis robusta yang ditanam di sekitaran lereng Gunung Slamet. Kemudian, arabika kebanyakan dari wilayah Banjarnegara dan Purbalingga. Kalau dari segi rasa, berbeda antara kopi yang ada di Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera dan wilayah lainnya,” kata Benny.

Ia mengungkapkan, kopi dari wilayah Jawa memiliki keunikan karena ditanam di tanah yang berbeda. Benny mencontohkan, kopi penakir dari lereng Gunung Selamet wilayah Pemalang yang rasanya lebih manis dibanding kopi lainnya.

“Kalau untuk rasanya, kopi penakir lebih sweet dan seimbang antara acid (asam) dan bitter (pahit)-nya. Untuk rasa acid seperti rasa markisa sedangkan manisnya mendekati gula aren,” ujarnya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X