RAKYATKU.COM, TORAJA – Pemerintah Provinsi Papua kembali mengirim puluhan petani kopi untuk magang budidaya juga cara pengolahan kopi di Tana Toraja, selama dua pekan.

Upaya pemerintah Papua ini guna meningkatkan kualitas komoditas kopi, berikut turunnnya di tiga kabupaten yang masuk dalam wilayah adat MEE-PAGO di Papua.

Kepala Badan Percepatan Pembangunan Kawasan Papua, Omah Laduani Ladamai mengatakan potensi komoditas kopi Papua sangat menjanjikan. Namun pihaknya banyak menemukan kendala untuk pengembangan.

“Masalah aksesbilitas warga dan pengelolaan kopi yang masih sangat tradisional adalah beberapa kendala yang kami hadapi di Papua. Kendala lain terbatasnya market untuk kopi Papua. Kami memilih Toraja sebab komoditas kopinya mendunia,” ujarnya kepada Rakyatku.com, Sabtu (5/11/2016).

Dia menjelaskan luas tanaman kopi di wilayah adat MEE-PAGO ada 9000 hektar. Namun, hasil produksi selama ini tidak sebanding dengan luas tanaman kopi yang dikelola petani di Papua. Dalam satu tahun, produksi kopi hanya 200-300 kilogram.

Kata Omah, di tempatnya, mereka tidak memiliki pusat pembibitan alhasil bibit kopi yang selama ini ditanam petani bibit yang tidak sertivikasi. Selain persoalan bibit, petani Papua juga masih kurang pengetahuan budidaya kopi, serta tenaga pendamping penyuluh juga minim.

“Sekian puluhan tahun tidak ada pembinaan yang bagus. Pengelolalan kopi dilakukan asal-asalan. Setelah menanam kurang pemeliharaan. Nah inilah yang akan dirubah. Kami harapkan petani pilhan ini sebagai perintis yang nantinya membimbing petani lainnya sekaligus sebagai penyuluh,” jelasnya.

Sekretaris Daerah Tana Toraja Enos Karoma mengapresiasi langkah Pemerintah Papua. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja kata Enos akan melibatkan seluruh stakeholder untuk membantu para petani kopi Papua.

“Magang kita pusatkan di Kecamatan Gandasil bersama kelompok petani kopi setempat. Di sana mereka akan melihat dan bisa merasakan langsung cara petani kita mengelola kopi. Nanti juga kita akan ajak mereka ke Pabeik kopi PT Sulutco. Intinya kita maksimal bantu,” pungkasnya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X