Kopi Moanemani tidak hanya dinikmati warga lokal, tetapi juga menarik peminat kopi dari Belgia dan Belanda berkat rasanya yang khas. (Liputan6.com/Katharina Janur)
Kopi Moanemani tidak hanya dinikmati warga lokal, tetapi juga menarik peminat kopi dari Belgia dan Belanda berkat rasanya yang khas. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Liputan6.com, Moanemani – SMP YPPK Santo Fransiskus Moanemani di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, berdiri teguh di atas lahan 2 hektare (ha). Siapa sangka sekolah yang dibangun pada 1964 itu masih terus bertahan dan menjadi sekolah tertua di pedalaman Papua berkat petani kopi lokal.

Cat biru pada dinding bangunan sekolah semipermanen itu memang mulai memudar. Namun, semangat untuk mempertahankan pelajaran tentang kopi sebagai muatan lokal siswa tetap membara.

Pelajaran tentang kopi di sekolah peninggalan Belanda di bawah Yayasan Persekolahan dan Pendidikan Katolik (YPPK) itu meliputi proses pembibitan, penanaman, panen, hingga proses pengepakan kopi yang siap dijual di pasaran.

Kepala Sekolah SMP YPPK Santo Fransiskus, Ernest Giyai, menyebutkan muatan lokal diterima oleh siswa kelas VII-IX SMP. Para siswa setiap minggunya dibimbing untuk pergi ke kebun kopi, memelihara tanaman kopi, menyangrai kopi, hingga mengemas kopi dalam bungkus kemasan yang telah disediakan.

“Kebun kopi ada di belakang sekolah dan kami memiliki lebih dari 1.000 pohon. Namun, 200 pohon sudah mulai tua dan harus diregenerasi,” kata Ernest, Kamis, 23 Maret 2017.

Ernest berkisah, biji kopi Moanemani pertama kali dibawa oleh misionaris gereja yang bertugas di Dogiyai. Para misionaris saat itu berpikir Dogiyai merupakan daerah yang cocok untuk ditanami kopi.

Kopi Moanemani terkenal memiliki cita rasa khas berkat struktur tanah dan pupuk khusus. Penanaman kopi Moanemani hanya menggunakan pupuk buatan sendiri, yakni tanaman yang dikumpulkan pada sebuah kolam dan air di kolam itu yang akan mengalir ke pohon-pohon kopi.

“Setiap hasil panen Kopi Moanemani akhirnya dibawa sampai beberapa negara, di antaranya Belanda, Belgia, dan sejumlah negara bagian lain di Eropa. Uang hasil kopi itu yang digunakan untuk membangun sekolah dan membuat fasilitas lainnya di sekolah ini, agar terus berkembang dan maju,”

ucap Ernest.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X